welcome Ramadhan
Ramadhan tahun lalu, teramat banyak menu tersaji di meja makan, baik saat sahur, terlebih saat berbuka. Tidak sedikit sisa makanan sahur yang terbuang ke tempat sampah di pagi hari. Begitu juga setumpuk makanan yang tak mampu lagi tertampung di perut usai berbuka. Padahal, di luar sana jutaan anak yatim menangis menahan lapar mereka. Antrian pengemis dan kaum fakir menadahkan tangan meski kadang hanya lelah yang didapat. Sama dengan kita, mereka pun berpuasa. Bedanya, tak ada makanan untuk sahur maupun berbuka. Karena puasa bagi mereka, tak hanya di bulan ramadhan. Sepanjang tahun mereka lakukan hal yang mungkin hanya sebulan kita menjalaninya.
Sepanjang Ramadhan tahun lalu, banyak ibadah yang kita kerjakan. Banyak sudah doa yang terajut, untaian pinta yang terukir, air mata yang tumpah di setiap sujud dan panjang rakaat sholat kita. Sama dengan kita, di luar sana, jutaan fakir miskin tak henti berdoa berharap derma dari yang peduli. Sepanjang tahun kita hanya khusyuk berdoa, namun tanpa tangan yang terhulur menjawab pinta kaum fakir.
Di hari-hari terakhir Ramadhan tahun lalu, langkah-langkah kaki kita memenuhi pusat perbelanjaan untuk menyambut hari raya penuh ceria. Butuh waktu berhari-hari untuk menyambangi beberapa pusat perbelanjaan, teramat banyak peluh yang menetes untuk menjinjing hasil buruan berjam-jam di pusat perbelanjaan. Di hari-hari yang sama pula, kaki-kaki kaum dhuafa memenuhi pusat perbelanjaan. Bukan untuk berbelanja, mereka hanya singgah di emperan pertokoan sambil mengiba berharap kasih sayang. Berkaca mata mereka menyaksikan tawa riang orang-orang keluar masuk toko. Pilu hati mereka menatap jinjingan yang dibawa setiap orang yang keluar toko. Sesekali sepasang matanya singgah di baju lusuh yang kotor dan beraroma tak sedap yang mereka kenakan.
Usai sholat Id tahun lalu, aneka makanan berbagai bentuk dan warna. Beragam minuman aneka rasa menghiasi meja tamu dan meja makan kita. Ketupat, rendang daging, dan berbagai sajian khas lebaran siap terhidang. Untuk orang rumah, juga untuk tamu. Tapi tak ada makanan yang sengaja disiapkan untuk dikirim ke panti anak yatim. Apalah lagi membuka pintu untuk kaum fakir dan menyediakan meja untuk mereka bersantap.
Saat seluruh keluarga berkumpul, merasakan hangatnya silaturahmi yang terjalin indah, ada segepok uang yang kita bagi-bagikan kepada anak-anak, keponakan, cucu, atau pun anak-anak kerabat yang datang. Padahal di depan pagar rumah kita, berpuluh pasang mata menatap iri bermimpi mendapat santunan. Kata “maaf” atau sekadar uang kecil menjadi alat pengusir tamu-tamu tak diundang itu.
Di hari raya tahun lalu, ada tangan lembut yang kita kecup. Begitu juga tahun ini, ibu dan ayah manis duduk menanti antrian anak-anaknya bersimpuh meminta keridhaan. Satu persatu dari yang tertua hingga si bungsu menyalami dan mencium ibu dan ayah mereka. Tak jauh dari tempat kita, anak-anak yatim piatu di rumah panti menatap kosong pintu tempat tinggal mereka. Tak ada yang datang bersilaturahim, membawakan makanan kecil atau ketupat. Dan yang pasti, tak ada tangan-tangan lembut yang mereka kecup untuk dimintai keridhaannya. Sebagian mereka, bahkan tak pernah tahu sosok mulia yang melahirkannya.
Ramadhan tahun ini, mestinya kita lebih peduli. Agar ada secercah senyum terukir di wajah mereka. Semoga.
From :eramuslim
Bagi semua mahasiswa PENS yang ingin bergabung dengan saya sedikit merasakan nikmatnya berbagi bersama adik2 yatim piatu di Program Kakak Asuh UKKI-PENS ITS Bisa kirim email di dheve_89@yahoo.com….
Uncategorized | Comment (0)Power of Think
Sambil menunggu adik yang sedang mendaftar masuk universitas yg sama dengan saya, saya ngobrol-ngobrol dengan seorang lelaki muda,tinggi,tampan penampilannya rapi kira-kira 25 tahunan.setelah ngobrol basa-basi laki-laki itu mulai bertanya “mau daftarin adiknya juga?”Tanyanya. “iya”jawabku. “kamu kuliah disini juga?”.”iya”.q jawab sekenanya. ”kamu dapat beasiswa?”.”iya pak, kenapa?” aku mulai penasaran ngapain kok tanya gitu.
”belajar yang giat ya dek kalo mau jadi orang sukses, disiapkan mulai dari sekarang, biaya itu perkara mudah asal kita mau berusaha”
”iya pak insyaAllah, saya kadang-kadang juga ngasi les privat”
”wah bagus, saya dulu waktu kuliah juga nyambi kerja”
saya jawab dengan senyum kecil.cukup lama diam aku iseng-iseng tanya.
”kalo boleh tahu dulu kuliah dimana pak ?”
”di ITB jurusan teknik material”
Wah hebat, mulai penasaran aku tanya lagi ”sekarang kerja dimana pak?”.
”ngajar disini juga tapi jurusan teknik mesin”
Wah ternyata orang muda ini jadi dosen di universitas yang sama denganku cuma beda jurusan.
”terus ambil S2-nya disini ya pak ?”
”ndak, saya S2 dari beasiswa di jerman. Habis pulang dari jerman saya ngajar disini”
“Subhanallah hebat ya pak, anda masih sangat muda tapi sudah jadi dosen, lulusan jerman lagi”
“waktu kuliah dulu saya kira saya orang paling bodoh sekelas karena saat tes penerimaan mahasiswa saya diterima dengan rangking yang paling bawah, tapi karena tekad saya untuk kuliah di ITB saya harus bisa bertahan agar tidak di DO gara-gara nilai IP jelek, disamping terbawa oleh lingkungan saya yang kebanyakan anak-anak rajin. saya sendiri tidak mengira bahwa saya akan jadi seperti sekarang ini, tapi ini masih belum apa-apa masih banyak mimpi yang ingin saya raih ”
Laki-laki muda itu pun bercerita tentang kehidupan jerman.cukup lama bercerita akhirnya adik saya datang dan kita pun pamitan.
Pertemuan yang singkat tapi sangat berkesan buat saya, yang memang agak takut bila bermimpi terlalu tinggi yang seolah-olah terkurung oleh pikiran sendiri. Saya acungkan empat jempol untuk bapak tadi yang punya kekuatan mimpi, pikiran dan tekad yang hebat yang bisa membuatnya melompat tinggi.
Agaknya saya harus belajar banyak dari semangat belalang yang bisa melompat lebih tinggi gara-gara terkurung dalam sebuah kotak hingga akhirnya bisa keluar.
Kadang-kadang saya sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman, tradisi, dan kebiasaan bisa membuat saya terpenjara dalam kotak semu yang mementahkan semua potensi. Lebih sering saya mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan kepada saya tanpa berpikir dalam-dalam bahwa apakah hal itu benar adanya atau benarkah saya selemah itu? Lebih parah lagi, saya acap kali lebih memilih di dalam kotak itu daripada harus keluar.
Sekarang saya mengerti bahwa gajah yang sangat kuat bila diikat hanya dengan seutas tali yang terikat pada sebilah pancang kecil? Gajah sudah akan merasa dirinya tidak bisa bebas jika ada “sesuatu” yang mengikat kakinya, padahal “sesuatu” itu bisa jadi hanya seutas tali kecil…
Let’s go guys.we will can get all of our dream if we think we can… chayo…chayo..!!!!!!!!!!!
Renungan untuk kita:
Pernahkah Anda bertanya kepada diri Anda sendiri bahwa Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda mau menyingkirkan “kotak” itu? Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap di luar batas kemampuan dan pemikiran Anda?
Sebagai manusia kita berkemampuan untuk berjuang, tidak menyerah begitu saja kepada apa yang kita alami. Karena itu, teruslah berusaha mencapai segala aspirasi positif yang ingin Anda capai. Sakit memang, lelah memang, tapi jika Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar. Pada dasarnya, kehidupan Anda akan lebih baik kalau Anda hidup dengan cara hidup pilihan Anda sendiri, bukan dengan cara yang dipilihkan orang lain untuk Anda.
Don’t forget to give me advice , comment or critics yach.!!!
Uncategorized | Comment (0)