Sungguh Hamba Malu
Hamba malu menghadap padaMu karena masih kurang langkahku padaMu.
Hamba malu mengharap cintaMu karena masih sedikit cintaku padaMu.
Hamba malu mengharap surgaMu karena masih sesat aku dijalanMu
Hamba malu ungkapkan terimakasih padaMu karena masih kurang sujudku sebagai hambaMu
Hamba malu mohon ampunanMu karena masih ada hawa nafsuku dekati laranganMu
Hamba malu ungkapkan perasaanku padaMu karena masih lalai dzikirku padaMu
Allah..
Tak pantas hamba berharap surga-Mu
Namun tak sanggup bila hamba harus ke neraka-Mu
Dosa-dosaku bagai butir pasir di pantai
dan hanya Engkau Ya Robb yang mampu menyapunya
Allah..
Ampunilah dosa hamba dan terimalah taubat hamba
Amin..
Uncategorized | Comment (0)Akhir Yang Berbeda
|
Kuku, gigi dan wanita
Cinta laki-laki seumpama gunung. Ia besar tapi konstan dan, sayangnya, rentan. Sewaktu-waktu ia bisa saja meletus memuntahkan lahar, menghanguskan apa saja yang ditemuinya. Cinta perempuan seumpama kuku. Ia hanya seujung jari, tapi tumbuh perlahan-lahan, diam-diam dan terus menerus bertambah. Jika dipotong, ia tumbuh dan tumbuh lagi.
Perumpamaan di atas terilhami melalui sebuah dialog dalam adegan film Bulan Tertusuk Ilalang karya Garin Nugroho. Betapa menakjubkan. Dan kalimat itu mengingatkan saya pada kenangan tentang sahabat saya dan mamanya ketika masa-masa SMP-SMU dulu.
Kala itu, nyaris setiap hari saya main ke rumahnya yang jauh di selatan kota. Saya tahu dia anak orang kaya. Papanya, pimpinan sebuah instansi pemerintah terkemuka di kota saya, dan mamanya adalah ibu rumah tangga biasa. Saya tak heran mendapati barang-barang bagus dan bermerk di rumahnya yang masih dalam tahap renovasi. Sofa yang empuk, televisi yang besar. Saya hanya bisa berdecak kagum sekaligus iri.
Tapi, lama-lama saya menyadari bahwa isi rumah itu makin kosong dari hari ke hari. Perabotan yang satu per satu lenyap dan televisi yang “mengkerut” dari 29 inchi ke 14 inchi. Perubahan paling mencolok adalah wajah mama sahabat saya. Suatu saat ketika ia berbicara, tak sengaja saya dapati bahwa mama sahabat saya itu kini ompong! Kira-kira 2-3 gigi depannya hilang entah kemana.
Saya tak berani, lebih tepatnya tak tega, untuk bertanya. Saya juga tak mau tergesa-gesa mengambil kesimpulan sendiri. Yang jelas, sebuah suara, jauh di lubuk hati saya bergema: “Sesuatu yang buruk telah terjadi di rumah itu!” Benarlah, tanpa diminta akhirnya sahabat saya datang berkunjung ke rumah. Setengah berbisik, manahan tangis,ia bercerita bahwa papanya selingkuh dengan perempuan lain dan karenanya, nyaris tak pernah pulang ke rumah. Dan ini bukan main-main, perempuan itu hamil dan menuntut pertanggung jawaban papanya.
Dengan emosi ia bercerita bahwa papanya mengajaknya ke rumah perempuan itu dan meminta sahabat saya untuk memanggilnya dengan sebutan “Mama”. Sebuah permintaan menyakitkan yang langsung ditolak mentah-mentah oleh sahabat saya. “Mamaku cuma satu!” tangkisnya tegar saat itu. Dan misteri tentang gigi mamanya yang tiba-tiba ompong, barang-barang mewah dan perabot yang satu per satu menghilang dari rumahnya pun terkuak sudah. Semuanya adalah akibat ulah papanya jua.
Dan setengah frustasi ia mengadu pada saya bahwa ia harus menanggung semua beban berat itu sendirian karena kakak satu-satunya yang kuliah di luar kota tak peduli dan tak mau memikirkan masalah itu. Mamanya pun “yang lemah lembut” tak bisa berbuat banyak dengan kelakuan suaminya. Ia cuma bisa pasrah, gigi yang ompong itu buktinya. Dan saya? Hanya doa dan motivasi yang bisa saya berikan agar sahabat saya itu tabah dan tak putus berdoa.
Toh sekarang, setelah lama peristiwa itu berlalu, doa sahabat saya pun dijawab oleh Tuhan. Ketika itu menjelang kelulusan SMU, ia bercerita pada saya bahwa papanya sudah “sembuh”, bertobat, dan kembali ke pangkuan istri dan anak-anaknya. Nasib the other women itu entah bagaimana. Sampai di sini persoalan beres. Dan saya takjub mendengarnya, senang sekaligus heran.
Bagaimana mungkin masalah pelik ini bisa selesai semudah itu? Nurani keadilan saya berontak. Saya tak habis pikir, betapa mudahnya mama sahabat saya itu memaafkan dan menerima kembali suaminya setelah semua yang dia lakukan. Lelaki itu tak cuma berkhianat, tapi juga menyakiti fisiknya, merontokkan gigi-gigi depannya, tak menafkahi anak-anaknya dan nyaris mengosongkan isi rumahnya. Dan ia memaafkannya begitu saja?! Sebuah kenyataan yang ternyata banyak juga saya temui di masyarakat kita. Perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga yang bisa diselesaikan dengan mudah, hanya dengan kata maaf. Mungkin inilah yang disebut orang sebagai “CINTA”
Papa sahabat saya adalah laki-laki dengan cinta sebesar gunung, dan ketika ia meletus, laharnya meluap ke mana-mana, menghanguskan apa saja, melukai fisik dan terutama hati dan jiwa istri dan anak-anaknya.
Mama sahabat saya adalah perempuan dengan cinta sebesar kuku. Memang cuma seujung jari, tapi cinta itu terus tumbuh, tak peduli jika kuku itu dipotong, bahkan jika jari itu cantengan dan sang kuku terpaksa harus dicabut, meski sakitnya tak terkira, kuku itu akan tetap tumbuh dan tumbuh lagi.
Sebuah cinta yang mengagumkan dari seorang perempuan yang saya yakin tak cuma dimiliki oleh mama sahabat saya itu. Cinta yang terwujud dalam sebuah tindakan agung: “Memaafkan”. Sebuah tindakan yang butuh kekuatan besar, butuh energi banyak, yang anehnya banyak dimiliki oleh makhluk (yang katanya) lemah, bernama perempuan.
Waktu terus berjalan, pengalaman yang sangat menarik sekaligus pelajaran berharga buat saya sehingga saya bisa sedikit belajar agar berhati-hati dengan para lelaki apalagi lelaki yang bertitle “ABC” alias Alligator, Buaya, Crocodile…heheheJ seminggu bilang sangat mengenal kita, seminggu bilang cinta, seminggu bilang benci, seminggu bilang putus, seminggu bilang sdah punya cewek lain, seminggu bilang maw balik lagi, balik lagi bilang cinta, balik lagi bilang benci, balik lagi bilang putus..terusin sendiri coz mbulet mikirnya.hwahahaha…lucu banget kan!!! So sebagai cewek we must selective to choice who became our prince…
kalo cinta ya langsung nikah aza..ngapain lama2 daripada ktemu ma ABC..hehehe
Smoga bisa diambil hikmah dan menjadi instropeksi buat diri kita masing-masing n mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada yang tersinggung. Plizzz maafin y n jangan lupa biz baca kasi komentar..thanx friend..luv u.
take it easy !!!
“Ya Allah, ya Tuhanku, hanya Engkaulah yang tahu tentang keadaan hatiku yang sebenarnya, Ya Allah, ku mohon, jadikanlah aku orang yang sabar, agar aku bisa melalui ini dengan baik. Ya Allah, ya Tuhanku , aku bersyukur atas musibah ini, karena Engkau telah beri aku nikmat yang banyak…….maka nikmat Engkau yang mana lagi yang hendak saya dustakan ??”
30 rahasia wanita
tanpa syarat/kriteria
Robbana hablana min azwajina wa durriyatina qurrota a’yun waj’alna lil muttaqina imama.. Amin
qurrota a’yun = penentram hati
“Ya Allah, saya memohonkan pilihan menurut pengetahuanMu dan memohonkan penetapan dengan kesuasaanMu juga saya memohonkan kurniaMu yang besar, sebab sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui dan saya tidak mengetahui apa-apa. Engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, jikalau di dalam ilmuMu bahawa urusan saya ini……..baik untukku dalam agamaku, kehidupanku serta akibat urusanku, maka takdirkanlah untukku dan mudahkanlah serta berikanlah berkah kepadaku di dalamnya. Sebaliknya jikalau di dalam ilmumu bahwa urusan ini buruk untukku, dalam agamaku, kehidupan serta akibat urusanku, maka jauhkanlah hal itu daripadaku dan jauhkanlah aku daripadanya serta takdirkanlah untukku yang baik-baik saja dimana saja adanya, kemudian puaskanlah hatiku dengan takdirMu itu.”
Uncategorized | Comment (0)Ramadhan 1429H tlah usai
stiap hari tiap waktu kita kumpulkan mutiara-mutiara kebaikan d bulan seribu kebaikan
pada akhirnya kita akan untai mutiara-mutiara itu menjadi perhiasan yang sangat indah yang akan dikenakan oleh pemiliknya
semoga keindahan untaian mutiara-mutiara itu akan tetap bersinar hingga Ramadhan 1430H tiba dan kita akan memanen dan menguntai mutiara-mutiara itu kembali.
Maaf dan memaafkan tetap tak kan dapat merubah masa lau tapi itu dapat memperindah masa depan.
Taqobbalallahu minna waminkum, Syiamana wa syiamakum, Taqobbal ya kariim
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
- vebry -
Uncategorized | Comment (0)CINTA SEORANG IBU part2
> CINTA SEORANG IBU
> [Author : unknown]
>
> Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah
> tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya
>
> Suaminya sudah lama meninggal karena sakit.
>
> Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak
> satu-satunya.
>
> Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka
> mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi
>
> Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang,
> Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan :
> “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya
> tidak berbuat dosa lagi
>
> Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat
> sebelum aku mati”
>
> Namun semakin lama si anak semakin larut dengan
> perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk
> penjara karena
> kejahatan yang dilakukannya
>
> Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa,
> namun malang dia tertangkap
>
> Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan
> dijatuhi hukuman pancung
>
> pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan
> dilakukan
> keesokan hari
>
> di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng
> berdentang menandakan pukul enam pagi
>
> Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu
>
> dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa
> berlutut kepada Tuhan
>
> “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua
> ini yang
> menanggung dosa nya”
>
> Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon
> supaya anaknya dibebaskan
>
> Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani
> hukuman
>
> Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah
>
> Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan
> akhirnya dia tertidur karena kelelahan
>
> Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan
>
> Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan,
> rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut
>
> Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak
> sudah pasrah dengan nasibnya
>
> Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan
> tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya
>
> Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba
>
> Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga
> berdentang
>
> sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik,
>
> akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng
> datang
>
> Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik
> tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada
>
> Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali
> lonceng itu mengalir darah
>
> Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu
> diikat
>
> Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan
> saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber
> darah
>
> Tahukah anda apa yang terjadi?
>
> Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua
> dengan kepala hancur berlumuran darah
>
> dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan
> lonceng tidak berbunyi,
>
> dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di
> dinding lonceng
>
> Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk
> dan meneteskan air mata
>
> Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya
> yang sudah diturunkan
>
> Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya
>
> Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah
> memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng
>
> Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman
> pancung anaknya
>
> Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya
>
> Betapapun jahat si anak, ia tetap mengasihi sepenuh
> hidupnya.
>
> Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing
> selagi kita masih mampu
>
> karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di
> dunia ini
>
> Sesuatu untuk dijadikan renungan utk kita…
>
> Agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang
> tidak bisa dinilai dengan apapun
>
> There is a story living in us that speaks of our place in
> the world
>
> It is a story that invites us to love what we love and
> simply be
> ourselves
>
> Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan
> Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa
> muda yang
> abadi
> Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan
> Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber
> kebijaksanaan
> Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak
> istimewa
> yang diberikan Tuhan
> Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju
> kebahagiaan
> Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang
> menggetarkan hati
> Ambillah waktu untuk memberi, itu membuat hidup terasa
> berarti
> Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan
>
> Ambillah waktu utk beramal, itu adalah kunci utk menuju
> surga
>
> Gunakah waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak akan bisa
> diputar
> kembali
>
> Jika kamu menyayangi Ibumu, “FORWARD” lah
> Email ini kepada sahabat-sahabat anda.
>
> SEBERAPA DALAM KAMU MENCINTAI IBUMU ???? mother is the
> best super hero
> in the world.
>
just a dream
wuih …… bener2 beban berat ditahun-tahun terakhir kuliah ini.
semua impian ini memang seperti mimpi dan mungkin hanyalah mimpi.
karena mimpi hanyalah mimpi……………………!!!!!!!!!
mimpi tentang hidup dan cinta…..
hidup yang indah dan cinta yang sederhana.
sedang yang saya punya hanya upaya dan upaya…..
akan mimpi - mimpi yang jadi nyata..
semoga..
amin.
Uncategorized | Comment (0)welcome Ramadhan
Ramadhan tahun lalu, teramat banyak menu tersaji di meja makan, baik saat sahur, terlebih saat berbuka. Tidak sedikit sisa makanan sahur yang terbuang ke tempat sampah di pagi hari. Begitu juga setumpuk makanan yang tak mampu lagi tertampung di perut usai berbuka. Padahal, di luar sana jutaan anak yatim menangis menahan lapar mereka. Antrian pengemis dan kaum fakir menadahkan tangan meski kadang hanya lelah yang didapat. Sama dengan kita, mereka pun berpuasa. Bedanya, tak ada makanan untuk sahur maupun berbuka. Karena puasa bagi mereka, tak hanya di bulan ramadhan. Sepanjang tahun mereka lakukan hal yang mungkin hanya sebulan kita menjalaninya.
Sepanjang Ramadhan tahun lalu, banyak ibadah yang kita kerjakan. Banyak sudah doa yang terajut, untaian pinta yang terukir, air mata yang tumpah di setiap sujud dan panjang rakaat sholat kita. Sama dengan kita, di luar sana, jutaan fakir miskin tak henti berdoa berharap derma dari yang peduli. Sepanjang tahun kita hanya khusyuk berdoa, namun tanpa tangan yang terhulur menjawab pinta kaum fakir.
Di hari-hari terakhir Ramadhan tahun lalu, langkah-langkah kaki kita memenuhi pusat perbelanjaan untuk menyambut hari raya penuh ceria. Butuh waktu berhari-hari untuk menyambangi beberapa pusat perbelanjaan, teramat banyak peluh yang menetes untuk menjinjing hasil buruan berjam-jam di pusat perbelanjaan. Di hari-hari yang sama pula, kaki-kaki kaum dhuafa memenuhi pusat perbelanjaan. Bukan untuk berbelanja, mereka hanya singgah di emperan pertokoan sambil mengiba berharap kasih sayang. Berkaca mata mereka menyaksikan tawa riang orang-orang keluar masuk toko. Pilu hati mereka menatap jinjingan yang dibawa setiap orang yang keluar toko. Sesekali sepasang matanya singgah di baju lusuh yang kotor dan beraroma tak sedap yang mereka kenakan.
Usai sholat Id tahun lalu, aneka makanan berbagai bentuk dan warna. Beragam minuman aneka rasa menghiasi meja tamu dan meja makan kita. Ketupat, rendang daging, dan berbagai sajian khas lebaran siap terhidang. Untuk orang rumah, juga untuk tamu. Tapi tak ada makanan yang sengaja disiapkan untuk dikirim ke panti anak yatim. Apalah lagi membuka pintu untuk kaum fakir dan menyediakan meja untuk mereka bersantap.
Saat seluruh keluarga berkumpul, merasakan hangatnya silaturahmi yang terjalin indah, ada segepok uang yang kita bagi-bagikan kepada anak-anak, keponakan, cucu, atau pun anak-anak kerabat yang datang. Padahal di depan pagar rumah kita, berpuluh pasang mata menatap iri bermimpi mendapat santunan. Kata “maaf” atau sekadar uang kecil menjadi alat pengusir tamu-tamu tak diundang itu.
Di hari raya tahun lalu, ada tangan lembut yang kita kecup. Begitu juga tahun ini, ibu dan ayah manis duduk menanti antrian anak-anaknya bersimpuh meminta keridhaan. Satu persatu dari yang tertua hingga si bungsu menyalami dan mencium ibu dan ayah mereka. Tak jauh dari tempat kita, anak-anak yatim piatu di rumah panti menatap kosong pintu tempat tinggal mereka. Tak ada yang datang bersilaturahim, membawakan makanan kecil atau ketupat. Dan yang pasti, tak ada tangan-tangan lembut yang mereka kecup untuk dimintai keridhaannya. Sebagian mereka, bahkan tak pernah tahu sosok mulia yang melahirkannya.
Ramadhan tahun ini, mestinya kita lebih peduli. Agar ada secercah senyum terukir di wajah mereka. Semoga.
From :eramuslim
Bagi semua mahasiswa PENS yang ingin bergabung dengan saya sedikit merasakan nikmatnya berbagi bersama adik2 yatim piatu di Program Kakak Asuh UKKI-PENS ITS Bisa kirim email di dheve_89@yahoo.com….
Uncategorized | Comment (0)